Assalamualaikum Wr. Wb.
Aku seorang gadis berusia 20 tahun, selama ini gaya hidupku tak jauh dari kalian para gadis-gadis yang selalu mengikuti jaman, aku selalu mengenakan jilbab kemanapun aku pergi karena aku adalah seorang muslim namun tanpa aku sadari jilbab yang aku kenakan jauh dari syari’at yang telah ditentukan.
Shalat memang bisa dibilang rajin tapi shalatku secepat kilat, ya bisa dibilang asal-asalan, qabla dan ba’da tak pernah aku lakukan, sholat sunnah dan puasa sunnah dilakukan bila ingat dan ingin saja, membaca al-quran pun jarang dilakukan apalagi setelah lulus SMA karena disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, tapi sebenarnya karena tidak nyempetin saja.
Tak bisa aku menjaga hati, lisan dan pandanganku hingga sering aku tak dapat menjaga emosiku, tak dapat menjaga perkataanku hingga tak disadari sering menyakiti hati orang lain. Sering aku meninggalkan perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya, sering hatiku berharap pada makhluk-Nya bukan pada Allah.
Astagfirullah... betapa jauh aku dari sang Pencipta, jauh diri ini dari kata Shalehah hingga kesenangan dunia yang fana saja yang terus menjadi teman dalam hidupku. Kenapa aku mendzolimi diri ini, Allah telah berikan kenikmatan tapi aku tidak mensyukurinya. Terkadang aku iri pada mereka wanita-wanita sholehan dengan hijab syar’i yang menambah kecantikan mereka, sungguh aku ingin seperti mereka yang selalu istiqomah menjaga hati, lisan dan pandangan mereka, selalu istiqomah mendekatkan diri pada Allah swt.
Alhamdulillah, wa syukrulillah, wanikmatillah.. begitu luar biasa karunia yang Allah berikan untukku, betapa Allah masih menyayangiku sehingga aku masih dapat merasakan nikmat iman dan nikmat islam. Allah berikan kesempatan untukku agar dapat memperbaiki hidup ini. Setelah begitu banyak hal yang aku lalui ternyata begitu banyak dosa yang telah aku lakukan, ingin aku menjadi pribadi yang lebih baik, ingin aku memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.
Hijrah! ya itulah yang aku lakukan.
Aku mulai memperbaiki hijabku agar sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan, shalat pun aku perbaiki dan berusaha lebih khusu, Al-quran berusaha kubaca disetiap selesai shalatku, shalat sunnah dan puasa sunnah berusaha aku lakukan setiap saat, pengajian-pengajian berusaha aku ikuti terlebih tuhan pertemukan aku dengan seseorang yang sangat bersemangat untuk mencari ilmu agama, dengannya aku bersama-sama berusaha mencari Ridho Allah. Tidak hanya itu saja, kuhapus semua foto-foto yang tersebar di media sosial, ku mengganti nomor agar tak lagi ada laki-laki yang menggangguku, ku perbaiki semua yang aku mampu, ku amalkan semua yang aku tahu, ku berusaha istiqomahkan hati ini di jalan Allah swt.
Aku berhijrah kurang lebih sudah 4 bulan, bukan karena dipaksa ataupun dirayu oleh orang lain, hijrahku karena keinginanku sendiri aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik, hijrahku karena Allah.
Dalam hijrahku hal yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu agama, aku mulai menuntut ilmu agama di salah satu pesantren yang berada di Garut tepatnya di daerah Sukagalih. Meskipun tak banyak waktu yang dapat aku manfaatkan untuk mengaji karena padatnya jadwal kuliah di semester lima ini, aku berusaha memanaje waktu agar semuanya dapat aku lakukan. Darisana aku mulai menyibukan diri menjalani kegiatan-kegiatan positif, mengurangi jadwal kegiatan yang tak begitu penting dan berusaha memanfaatkan waktu untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Jika yang lain dalam hijrahnya sulit karena menghadapi seorang Ikhwan yang mereka cintai, berbeda denganku yang paling sulit dalam perjalanan hijrahku disamping istiqomah adalah orang-orang yang ada disekelilingku. Awal aku berhijrah aku takut jika sahabat-sahabatku menjauh karena aku tak asyik lagi, terlebih aku mempunyai seorang sahabat yang sangat dekat denganku, persahabatan kita sudah layaknya adik dan kakak yang selalu ingin saling menjaga, saling memberi kebahagiaan, saling memberi perhatian. Adakah orang yang ingin kehilanggan sahabatnya? TIDAK.. Semua sahabat didunia tentunya ingin persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik, begitupun denganku, aku ingin persahabatanku dengan dia tetap terjalin seperti biasanya namun akupun tak dapat memaksakan apa yang dikehendakinya.
Hingga pada suatu hari ia berada pada titik jenuhnya, diri ini yang mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan membuat persahabatan kami renggang, ia merasa kalau aku ini berubah tak seperti dulu lagi yang selalu punya banyak waktu untuknya, hingga ia melontarkan ucapan-ucapan yang membuat hati ini sakit. Ya aku terima semua yang ia katakan karena memang begitu adanya aku terlalu sibuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang membuat aku dekat dengan sang pencipta, aku sibuk mencari ilmu hingga nongkrong dan mengobrol tidak lagi sempat aku lakukan dengannya. Tapi tidak sedikit juga sahabat yang mendukungku, mereka memberikan motivasi agar aku tetap istiqomah. Darisana aku mulai tahu mana sahabat yang benar-benar tulus ada untukku dalam keadaan apapun dan mana sahabat yang hanya ingin bersenang-senang dalam dunia yang fana ini.
Allah maha tau isi hati ini, tak perlu aku membalas komentar-komentar pedas yang mereka lontarkan, tak perlu aku menjelaskan dan membenarkan apa yang mereka katakan, biarkan mereka menilai diri ini sesuka hati mereka karena aku akan tetap pada tujuanku, semoga Allah memudahkan jalan bagiku untuk menuju Syurga-Nya. tak apa dia menilaiku berubah karena memang begitu adanya. Ya aku berubah, aku berubah bukan lagi aku yang dulu, aku berubah ke arah yang lebih baik karena aku sadar kenikmatan dunia hanya sementara, Syurga yang ingin aku dapatkan dan untuk menuju syurganya Allah aku harus berusaha melepaskan kesenangan-kesenangan dunia yang fana ini.
Untukmu sahabatku... sungguh aku merindukanmu namun maaf aku tak lagi seasyik dulu, semoga kita dipersatukan di Syurga-Nya nanti...

Komentar